Memori otak saya kembali ke 3 tahun yang lalu, saat obrolan saya dengan teman yang studi di Fontys, Belanda via friendster. Saat itu saya nggak punya gambaran tentang masa depan, saya nggak tahu setelah lulus dari sekolah ini mau melanjutkan kuliah atau nggak. Sayang, sekolah saya saat itu masih kurang memberi info perguruan tinggi dan beasiswa luar negeri. Saat itu info hanya diberitahu sama anak-anak yang sering mengikuti lomba/menonjol atau dari tempat bimbel yang memang menelurkan siswa-siswa terbaik.
Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan saya mendaftar di kampus itu. Baru tahun kemarin baru saja lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Boleh dikatakan saat itu pengetahuan saya tentang melanjutkan studi di luar negeri masih rendah, yang ada decakan kagum lihat teman-teman saya yang melanjutkan studi di Malaysia, Taiwan, RRC, Kanada, Singapura, dan Jepang. Hanya beberapa dari teman saya yang murni mendapat beasiswa, rata-rata dengan modal orangtua. Ternyata, modal pernah kuliah di luar negeri nggak menjamin gampangnya mencari pekerjaan di negeri orang maupun negeri sendiri. Ujung-ujungnya teman saya pulang kampung dan meneruskan usaha keluarga mereka masing-masing.
Lanjut membaca →