Jembatan Ampera, Magnet Penarik Wisatawan di Palembang


ampera

Sosok Jembatan Ampera yang berdiri kokoh di atas Sungai Musi Palembang ini menjadi ikon khas bagi kota Pempek. Jembatan Ampera ini dibangun untuk menghubungkan dua daerah yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

Keistimewaan dari Jembatan Ampera ini tempo dulu adalah bagian tengah dari jembatan ini bisa diangkat ke atas. Fungsinya agar tiang kapal yang lewat di bawah jembatan tidak tersangkut di jembatan. Dua menara yang menyangga badan jembatan itulah yang bertugas untuk mengangkat tuas jalan jembatan. Namun, sejak 1970 tidak bisa berfungsi lagi.

Masa kejayaan Jembatan Ampera menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke Palembang. Nama Ampera sendiri merupakan kepanjangan dari Amanat Penderitaan Rakyat.

Masyarakat Palembang sendiri menjadikan peluang untuk berjualan di bawah jembatan menggunakan kapal-kapal kecil, maka menjadi daya tarik bagi wisatawan bagi yang ingin menikmati makanan Palembang di kapal terapung.

ampera02

ampera03

Apalagi pada waktu malam hari, germelap lampu hias di sepanjang jembatan ini menjadi latar belakang bagi masyarakat untuk berfoto.

Maraknya belakangan ini berita tentang runtuhnya jembatan-jembatan di kota lain, tentunya mengkhawatirkan warga Palembang yang sering berlalu lalang di atas jembatan. Bisa jadi untuk warga Seberang Ulu. Wajar, karena daerah Seberang Ulu kalau mau ke Seberang Ilir tanpa melalui jembatan harus memutar arah yang jaraknya cukup jauh. Apalagi desas desus sewaktu SEA Games 2011 kemarin. Ada kecemasan kalau mereka yang dari Ilir tidak bisa pulang ke Ulu.

Belum lagi ditambah padatnya volume kendaraan di atas jembatan Ampera membuat kekhawatiran sendiri. Apakah beban berat bisa ditahan oleh jembatan? Dan kasus pencurian baut-baut jembatan yang sering dicuri orang untuk dijual lepas.

Semoga saja warga Palembang dapat menjaga aset dari kota. Kalau Jembatan Ampera ikut ambruk, nanti akan muncul ikon jembatan apa dong?

About these ads

Ditandai:, ,

11 pemikiran pada “Jembatan Ampera, Magnet Penarik Wisatawan di Palembang

  1. adrian10fajri September 19, 2012 pada 10:55 am Reply

    keren blognya..

    salam kenal yah…

    berkunjung juga ke blog saya yah >> http://www.adrian10fajri.wordpress.com (blog Pesona Palembang)..

    ^_^

  2. silver account Juli 1, 2012 pada 3:41 pm Reply

    Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat. Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.

  3. erwin Mei 12, 2012 pada 6:19 pm Reply

    misi pak/bu, saya mau numpang promosi ya :)

    silahkan kunjungi blog saya untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat. info bisnis juga ada lho !!

    http://si-penulis-biasa.blogspot.com/

    terima kasih :)

  4. Rina Jepara Desember 14, 2011 pada 6:36 pm Reply

    Luar biasa proyeknya. Berapa lama ya bangun jembatan kayak gitu.

  5. Aries beg Desember 14, 2011 pada 6:33 pm Reply

    bagus banget ya gan. kapan bisa ke sana YA

  6. Alid Abdul Desember 7, 2011 pada 2:26 pm Reply

    Mendengar kata Palembang membuat saya bener-bener pengen banget berkunjung ke sana. Pengan makan pempek asli, pengen makan mie celor asli. Sayang nggak ada direct flight dari Surabaya huft.
    Beruntung saya punya mami virtual yang bersedia ngirimin krupuk kemplang dan kaos ala palembeng “nyesnyes” jadi secara tidak langsung saya jatuh cinta sama ini kota.

    • Huang Desember 7, 2011 pada 3:06 pm Reply

      Hahaha.. kita ini seperti tertukar, aku kepengen sekali ke Surabaya lagi.

      Suka ya sama kaos “Nyenyes”. Bagus deh itu kreasi anak Palembang. Cukup laris juga dagangan itu.

      Dimana-mana mie celor ya asli, cuma masalah branded aja hehehe…

  7. Iman Desember 5, 2011 pada 10:20 pm Reply

    Wah udah sering ke Palembang tapi belum pernah menelusuri sungaj Musi dengn perahu. Jadi kepingin deh :)

    • Huang Desember 7, 2011 pada 3:12 pm Reply

      Heh?? kopdar yuk mas.. hehehe

      Iya sih karena ngunduh mantu dari PagarAlam :D

  8. Ely Meyer Desember 5, 2011 pada 6:38 pm Reply

    baru tahu aku kalau ada juga penjual di bawah jembatan itu. btw, jembatannya cantik juga ya , apalagi kalau dipotret malam hari … sayang kalau ikut ikutan ambruk, mereka2 yg nyuri bagian2 jembatan ini apa ndak mikir ya kalau bisa membahayakan keutuhan jembatan

    • Huang Desember 7, 2011 pada 3:13 pm Reply

      Betul jembatan cantik gini sayang kalau dirusak, malahan sama warga sendiri. Dan kalau ambruk juga nyesel buat warga sendiri. Arus transportasi jadi rusak dan ikon kota jadi melempem.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 347 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: