Arsip | September, 2011

Humor yang Menggalau

15 Sep

Dalam tiga hari ini, saya bisa mendengarkan lawakan dari teman kerja saya sampai 10 kali banyaknya. Bayangin aja, satu lawakan yang sama kamu dengar bisa sampai 10 kali lebih. Awalnya, satu sampai dua orang bisalah ketawa begitu dengar. Tapi selanjutnya? Apa masih bisa ketawa lagi?

Lawakannya sederhana kok, hanya memutarkan mp3 yang isinya percakapan orang lagi telepon. Jadi dibuat seolah-olah itu beneran dapet telepon. Saya yang lihat teman itu memutar berkali-kali mp3 tersebut cuma bisa tersenyum. Pokoknya tiap orang baru yang dia jumpain, dia pasti puter.

Lihat.

Kita tidak bisa mendengar satu lawakan yang sama dengan suara ketawa yang sama. Tentu itu akan basi. Satu atau dua kali cerita lawak masih relevan untuk didengar, tapi kalau sudah berlebihan? apa masih bisa tertawa?

Saya pikir, gimana kalau ini dibalik dengan perasaan sedih? Kenapa ada orang yang masih bisa terus menangis pada perasaan yang sama?! Bukankah ini juga bakalan basi ya?

 

“You can’t laugh at the same joke again and again but why do you keep crying over the same thing over and over again?”

 

Bekerja itu Cari Prestasi, bukan Cari Muka!

11 Sep

Bekerja saat ini menjadi lebih letih dua kali lipat. Letih yang pertama itu bagaimana berprestasi. Dan letih yang kedua itu bagaimana menghadapi persikutan dari rekan-rekan kerja. Ini yang lebih menguras emosi.

Tanpa disadari saat kita lagi mengejar prestasi, ternyata ada orang-orang yang berjiwa kerdil merendahkan dan mengecilkan orang lain yang berprestasi. Hanya cara itu yang mereka ketahui untuk membuat diri mereka kelihatan lebih baik. Orang-orang yang tidak aman merasa terancam setiap kali melihat orang lain berusaha untuk melakukan sesuatu yang luar biasa dengan hidup mereka. Akibatnya, mereka akan melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan untuk membuat kita merasa tidak layak.

Capek…

Ternyata membiarkan pikiran mereka diterima oleh kita dan menjadi realitas itu yang membuat dua kali lipat capeknya.

Contoh kecil, saat kita dapat fasilitas laptop, ada orang yang iri dan juga kepengen. Setelah dikasih Apple Mac ternyata pun masih juga belum puas. Konspirasi yang lebih membahayakan adalah mengadu domba sesama rekan demi satu posisi baru atau mempertahankan posisi. Yang terakhir ini dialamin teman saya, karena apapun yang dia kerjakan dianggap salah. Kalau sudah begini pilihan resign ada di tangan.

Fiuh…

Tetap fokus sama prestasi kita, karena kalau berprestasi bonusnya banyak. Hehehe…

—- 
Sent using my Sony Ericsson mobile phone

Give Thanks to God

3 Sep

Pengalaman di rumah sakit menambah tulisan beserta pengalaman yang saya alami. Siapa pun juga setuju kalau malas untuk ke rumah sakit. Entah ada trauma sama jarum suntik atau bau dari rumah sakit. Namun, itulah baiknya Tuhan. Dalam tiap kesusahan selalu ada ucapan syukur yang perlu saya ucapkan.

Saya bersyukur karena mama saya bisa bed-rest total beberapa hari, karena memang dia sudah kecapekan bekerja.

Saya bersyukur karena kamar yang kami dapat itu lebih baik dari kamar-kamar yang lain. Kamar kami ada balkon, jadi kalau saya sedang suntuk saya bisa duduk di luar. Selain itu dengan jumlah pasien hanya 4 orang termasuk mama. Tidak perlu berhimpitan sama pasien lain yang satu ruangan bisa 6 orang tanpa ada sekat. Bersyukur lagi ruangan kamar itu cukup besar dan penerangan lampunya juga cukup baik.

Saya bersyukur karena dalam satu ruangan kamar, ternyata masih ada pasien lain yang penyakitnya lebih parah *no offense* yang mana setiap waktu selalu meraung-raung kesakitan.

Saya bersyukur karena ada pasien lain yang mereka tidak ditemani sama keluarga mereka. Sedangkan kami masih dapat menjaga orangtua kami sehingga mereka tidak kesepian.

Tapi terus terang, makanan di rumah sakit itu tidak enak. Saya dan kakak saya bolak balik membelikan makanan karena memang makanan yang disediakan rumah sakit tidak menggungah selera.

Selama di rumah sakit pun tak jarang saya dan kakak bermain kucing-kucingan dengan satpam, karena rumah sakit ada jam besuknya. Waktu selesai jam besuk tentu pintu ditutup. Atau saat sedang pembersihan maka kami tidak bisa masuk. Sedangkan kami harus mengantarkan menu sarapan. Saya putar otak berpikir kalau rumah sakit ini pasti punya banyak pintu masuk yang saling berhubungan. Gotcha, saya bisa masuk melalui pintu-pintu lain.

So, praise the Lord. Hakuna matata!

Pelayanan Dokter Haruslah Lebih Bernurani

3 Sep

Satu bulan lalu, ada kejadian diwaktu subuh hari. Saya terbangun dari tidur karena teriakan mama. Kebetulan saya tidur dengan mama, maka saya segera lihat kondisi tangan dan kaki sebelah kanannya kaku, mulutnya seperti orang cadel lagi ngomong. Saya langsung panggil kakak saya untuk bangun.

10 menit berlalu

Kakak saya terus menggosok kaki dan tangan mama dengan minyak kayu putih. Sampai pukul 5 pagi pun kami masih terjaga sampai menunggu agak siang baru ke dokter untuk memeriksa kondisi mama. Paginya, saya coba untuk berangkat kerja namun pikiran saya sudah cemas. Mungkinkah?

(lagi…)

Huang dan Blog

3 Sep

Wah sudah 1 bulan saya vakum berbagi cerita di blog ini.  Bukan karena kesibukkan mencari pekerjaan baru, tapi ada beberapa bagian cerita yang memang tidak baik untuk dipublish.

Seminggu lalu, my partner in crime, Sinta beri tahu saya kalau pacarnya yang di German sedang membaca isi blog saya, khususnya yang bercerita tentang saya dan Sinta. Beberapa hal-hal kegilaan yang pernah kami lakukan bersama. Lucu juga sih awal pacarnya ketemu blog saya dari salah satu tulisan yang pernah saya publish. Lalu, pacarnya itu kasih link tulisan saya ke Sinta. Waktu Sinta habis baca dia lihat kalau alamat blog itu familiar di matanya.

Saya sih asik-asik aja kalau ada yang masih berkenan baca tulisan saya. Hehehe… Masih tetap kepengen nih, kapan waktu diliput di sebuah majalah, kan lumayan buat promosi :D

Gak banyak kalimat lagi yang pengen saya ketik, selain saya kangen ngeblog…

*kecup basah*

Huang

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 210 pengikut lainnya.