Peduli Sesama?


Suara kasir swalayan tadi membuyarkan konsentrasi aku saat asik sms.

Kasir : Maaf mas Rp 100 nya mau disumbangkan untuk PMI?
Huang : Sumbang? Ya udah silahkan.

Uang Rp 100 tadi berasal dari akumulasi total belanjaku di Hypermart. Harusnya kasir mengembalikan uangku utuh tapi dia menawarkan ‘sesuatu’ yang membuat posisi kita dilema. Dilema karena dihadapkan oleh pilihan beramal atau ini hanya akal-akalan toko karena nggak punya uang kembalian recehan.

Sisi lain kita akan merasa gengsi kalau mengatakan tidak untuk menyumbangkannya. Apalah arti uang recehan daripada gengsi karena dianggap nggak beramal?

Andai yang dilakukan pihak toko benar ya udah rasanya nggak perlu diperdebatkan. Setidaknya biarlah mereka yang mengurusnya.

p.s : Kalau dalam sehari ada 500 pengunjung swalayan dengan total uang sumbangan yang bervariasi. Berapa sehari yang disumbangkan ya?

~Coffee Oriental~
It’s mobile blogging

About these ads

7 pemikiran pada “Peduli Sesama?

  1. imadewira Februari 16, 2010 pada 1:22 am Reply

    setuju dengan Cahya, ini cara yang bagus untuk mengatasi masalah kembalian uang receh, terutama yang dibawah 500 rupiah, tetapi semoga saja benar2 disumbangkan.

    Huang : Iya juga sih, daripada dikasih kembalian permen.

  2. mikha_v Februari 14, 2010 pada 12:03 am Reply

    Kalo di tempat saya, kalau mau disumbangkan oleh si kasir, maka:

    1. Kotak sumbangan recehnya akan diletakkan di depan, jadi bukan mereka yang masukkan, melainkan kita.

    2. Memang ada poster kecil atau penjelasan akan disumbangkan ke mana

    3. Kalau keduanya tidak ada, kasir akan menanyakan dan menjelaskan sejelas-jelasnya akan disumbangkan kemana. Seperti, “maukah anda menyumbangkan 25 sen untuk yayasan McDonald Charity House?”

    Yang point terakhir mirip dengan kasir swalayan mas, tapi jarang sekali terjadi. Lebih sering yang satu dan dua.

    Huang : Wah rapi sekali ya sistem di luar sana :)

  3. badruz Februari 13, 2010 pada 11:19 pm Reply

    mereka kudu transparan misalnya hasilnya di publikasikan dalam media publik. kadang memang sedikit memaksa gitu… :lol:

    Huang : Nanti kita coba kasih masukan ke mereka untuk dimintain transparansi :)

  4. Okkots Februari 13, 2010 pada 3:36 pm Reply

    Gayung bersambut, pihak toko bingung bagaimana cara memberikan kembalian receh, sementara pihak peminta sumbangan mungkin juga segan memalak pengunjung langsung, jadi cara ini lah yang ditempuh. Kalo semua mini market melakukan ini, wah bisa signifikan juga tuh jumlahnya. :D

    Huang : Nah itulah yang saya maksud :D

  5. Cipu Februari 13, 2010 pada 3:34 pm Reply

    Di beberapa mini market, mereka melaporkan kok total receh yang mereka kumpulkan….. So no what what (gak apa apa) heheh

    Huang : Loh ngak apa-apa justru saya butuh uang recehan untuk bayar ongkos angkot :)

  6. kyaine Februari 13, 2010 pada 1:16 pm Reply

    klo saya sih yg penting mereka transparan dng melaporkan hasil pengumpulan receh td ke public/konsumen

    Huang : Nanti kita laporkan ya pak de :)

  7. Cahya Februari 13, 2010 pada 12:22 pm Reply

    Saya sih tidak keberatan, mungkin ide ini lebih baik daripada kembalian kita ditukarkan dengan permen.

    Uang receh termasuk langka di beberapa daerah, saya harus akui ide ini seperti ini sangat bagus – hanya saja penerapannya mesti bener :)

    Huang : Yup-yup betul.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 347 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: