Perempuan tanpa “V” dan Laki tanpa “P”


Andai laki dan perempuan itu tidak ada?

Sering aku berpikir demikian tentang demikian. Bukan untuk menghilangkan jenis kalau laki-laki dan perempuan. Tapi aku ingin menghilangkan batasan-batasan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Batasan-batasan tentang kodrat laki dan perempuan.

Kodrat laki itu jantan dan perempuan itu kemayu. Kodrat pekerjaan laki itu kasar dan perempuan itu halus. Maka nggak akan ada pandangan kamu laki kenapa kerja pekerjaan perempuan? bahkan sebaliknya perempuan yang mengambil lahan pekerjaan laki.

Sekarang, jika laki kerja di salon dibilang mau jadi bencong ya? Tapi coba kalau perempuan yang kerja jadi satpam, pol pp, atau montir. Tentunya pekerjaan mereka disanjung-sanjung oleh karena kehebatan mereka dan besoknya stasiun televisi bakalan meliput kisah hidup mereka. Padahal laki yang bekerja di lahannya perempuan juga nggak kalah hebatnya toh.

Sighs.

Kadang aku justru yang sering merasa laki itu lebih terdiskriminasi sama pola pikir yang pada akhirnya membentuk paradigma-paradigma yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Contoh sepele lainnya, perempuan kalau pipis berdua atau gandengan tangan sudah dianggap biasa. Nah coba kalau laki?

Tapi karena aku sudah terlahir dengan jenis kelamin laki, apa mau dikata selain menerima kondisi yang telah ada. :D

p.s : To hell with you lah…

About these ads

Ditandai:

26 pemikiran pada “Perempuan tanpa “V” dan Laki tanpa “P”

  1. read one April 8, 2010 pada 4:50 pm Reply

    tidak ada manusia yg mau terlahir dalam keadaan kekurangan..tp semua itu sudah digariskan..manusia hanya tinggal menjalani dan berusaha menjadi orang yg lebih baik lagi…jalani saja semuanya dengan ikhlas..

    Huang : Begitu ya mas?

  2. Alimah Desember 23, 2009 pada 11:55 am Reply

    dan kamu tak sendiri Huang, feminist sedang memperjuangkannya. karena pada dasarnya, musuh feminist adalah budaya patriarkhi itu sendiri. feminist tidak membela perempuan, apalagi memusuhi lelaki. musuh feminist hanya satu, yaitu budaya patriarkhi. perempuan dan lelaki sama-sama menjadi korban dari budaya tersebut. tak heran jika realitas yang kau tulis itu memang ada. karena memang ada, real, nyata, entah apalagi. mari berjuang bersama.

    Huang : Feminist itu apa ya mbak? Aku baru denger dengan penambahan +ist ini.

  3. [...] Masih berhubung dengan perempuan tanpa “v” dan laki tanpa “p”. [...]

  4. TM. Desember 15, 2009 pada 2:54 am Reply

    yah susah kadang image sudah menancap di kepala jadi mesti tabah menghadapi nya

    Huang : Menancap kayak kuntil aja :D

  5. geRrilyawan Desember 14, 2009 pada 9:07 am Reply

    wah merasa tertindas sama stigma masyarakat ya…
    kayanya kondisinya gitu juga ke perempuan, mungkin dalam hal yang berbeda. beginilah dunia yang dibentuk oleh pandangan segelintir orang….terima nasiiib :D

    Huang : Ho oh…

  6. bukan facebook Desember 14, 2009 pada 8:37 am Reply

    untung saya ndak pernah minat kerja di salon…yuuuukkkk…

    Huang : Mau kerja dimana?

  7. wi3nd Desember 14, 2009 pada 4:48 am Reply

    thats a life huan9..
    TUHAN suda menciptakan demikian…..

    Huang : Tapi kadang aku pengen berontak dengan ‘life’

    • Abdullah Sani Hazar Desember 21, 2009 pada 3:11 pm Reply

      ketidak mampuan kita memahami sesuatu aturan kadang kala membuat kita ingin mengubah aturan tersebut, padahal belum tentu sesuatu yang kita benci itu “buruk” buat kita, dan sebaliknya, sesuatu yang kita sukai pun belum tentu itu “baik” buat kita.

      manusia ditakdirkan memiliki akal dan pikiran untuk digunakan bagi kebaikan nya. Diluar dari nalar pikiran kita akan sesuatu hal yang tidak mampu kita memahaminya, kita serahkan kepada “TUHAN” yang kita anggap lebih berkuasa akan diri kita

      Huang : Makanya ini karena pola pikir manusia yang suka meng-kotak-kotak-kan sesuatu.

  8. gogo caroselle Desember 14, 2009 pada 4:36 am Reply

    kopi oh kopi,
    benar katamu bung,
    suka sebel kalo orang mengdiskredit sesama cuma based of those shallow things….
    petanda ni kalo masi banyak yang terlalu simple minded di era nya panji manusia milenium…
    pathetic yah… :(

    Huang : Bangettttttttt

  9. hanif Desember 13, 2009 pada 2:41 pm Reply

    pola pikir bisa berbeda-beda, sayangnya, kalo perempuan jadi montir, dia tetep berpenampilan menarik layaknya perempuan, jika laki2 disalon, kadang sudang berubah, malah make up, coba kalo laki2 di tukang cukur, pasti tetep laki2 juga.

    Huang : Tukang cukur iya, tapi kalo salon emang mungkin agak berubah :p

  10. guskar Desember 13, 2009 pada 1:37 am Reply

    mmg kenyataan yg nggak bisa dipungkiri tuhan menciptakan manusia cuma dua jenis itu, mstinya satu dan lainnya nggak perlulah merasa lbh unggul

    Huang : Iya itu kan teorinya kang.. Tapi kalo kenyataannyaa…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 349 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: